Kakek dan Nenek berusia diatas 70 tahun menerima kunjungan cucunya dari kota.
Sang cucu heran dengan apa yang dilihatnya selama berkunjung ke rumah Kakeknya. Si kakek selalu memanggil istrinya dengan panggilan mesra.
Cucunya bertanya, "Kek, saya kagum sama Kakek. Di umur setua ini Kakek sama Nenek masih mesra. Tadi Kakek selalu memanggil dengan 'CINTAKU tolong ambilkan minum',
'SAYANG dimana kacamataku?',
'ISTRIKU YANG CANTIK masak apa hari ini?' sepertinya Kakek tak pernah kehabisan cinta buat Nenek."
Kakek menjawab, "Ssst..! Kenapa kakek memanggil Nenekmu dengan semua panggilan mesra itu? Sebenarnya, Kakek lupa siapa nama Nenekmu..!"
'owalah.. Sudah pikun kek?"
Tampilkan postingan dengan label Cerita Tawa : Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Tawa : Keluarga. Tampilkan semua postingan
7.3.10
6.3.10
Waktu Kakek Seumurmu
Sore hari, Bagus remaja 13 tahun bermain bola di depan rumah kakeknya. Halaman yang luas membuat Bagus asik menendang bola meskipun cuma sendirian.
Datanglah sang Kakek, dan bertanya, "Benar kamu ingin jadi pemain bola?"
"Benar Kek." jawab Bagus sambil memainkan bola dengan kakinya.
"Kamu lihat pohon sawo itu, dulu waktu Kakek seumur kamu, kakek bisa menendang bola melampaui tinggi pohon itu. Coba, kalau kamu mau jadi pemain sepak bola, kamu harusnya juga bisa." kata kakeknya sambil berlalu.
Dengan susah payah Bagus berulang kali mencoba menendang bola sekencangnya dan setinggi mungkin. Tapi tetap gagal melewati tinggi pohon sawo yang hampir 11 meter itu.
Karena lelah setelah ratusan kali mencoba tanpa hasil dan hari sudah gelap Bagus masuk ke rumah dan bertanya kepada Kakeknya..
"Kek, emang benar dulu kakek waktu seusia aku bisa menendang bola melewati tinggi pohon sawo itu?" tanya Bagus.
"Iya, benar." jawab Kakek serius.
"Bagaimana caranya Kek, ada rahasianya ya? Kok Bagus gagal terus?" tanya Bagus lagi.
Sang Kakek lama terdiam, berfikir dan mencoba mengingat - ingat, lalu akhirnya...
"Oh.. Iya Kakek sekarang baru ingat! Dulu waktu kakek seumur kamu pohon sawo itu baru setinggi 1 meter."
Bagus terduduk lemas "..A..ahhh !"
Datanglah sang Kakek, dan bertanya, "Benar kamu ingin jadi pemain bola?"
"Benar Kek." jawab Bagus sambil memainkan bola dengan kakinya.
"Kamu lihat pohon sawo itu, dulu waktu Kakek seumur kamu, kakek bisa menendang bola melampaui tinggi pohon itu. Coba, kalau kamu mau jadi pemain sepak bola, kamu harusnya juga bisa." kata kakeknya sambil berlalu.
Dengan susah payah Bagus berulang kali mencoba menendang bola sekencangnya dan setinggi mungkin. Tapi tetap gagal melewati tinggi pohon sawo yang hampir 11 meter itu.
Karena lelah setelah ratusan kali mencoba tanpa hasil dan hari sudah gelap Bagus masuk ke rumah dan bertanya kepada Kakeknya..
"Kek, emang benar dulu kakek waktu seusia aku bisa menendang bola melewati tinggi pohon sawo itu?" tanya Bagus.
"Iya, benar." jawab Kakek serius.
"Bagaimana caranya Kek, ada rahasianya ya? Kok Bagus gagal terus?" tanya Bagus lagi.
Sang Kakek lama terdiam, berfikir dan mencoba mengingat - ingat, lalu akhirnya...
"Oh.. Iya Kakek sekarang baru ingat! Dulu waktu kakek seumur kamu pohon sawo itu baru setinggi 1 meter."
Bagus terduduk lemas "..A..ahhh !"
21.2.10
Mabuk? Tidak!
Moha mengisi malam mingguan dengan minum-minum di rumah Surip bersama teman-temannya.
Tengah malam Moha pulang karena takut istrinya marah, tapi baru dia berdiri dari tempat duduk dan hendak berjalan dia terjatuh. Moha mencoba bangun lagi.. Tapi jatuh lagi. Mungkin karena terlalu banyak minum alkohol, Moha mencoba pulang dengan tertatih tatih, berkali-kali jatuh dan merangkak.
Karena rumahnya tak jauh, akhirnya Moha sampai dirumah, membuka kunci, masuk dan langsung merangkak ke tempat tidur tanpa sepengetahuan istrinya. "Aman...! Istri gue nggak tahu." pikir Moha yang langsung tertidur.
Esok Hari... Pagi-pagi sekali..
Istri Moha marah, "Pa.. Bangun!, Papa pasti semalam mabuk lagi."
Di tempat tidur Moha menjawab, "Ah Mama, nggak mungkin Papa minum lagi."
"Jangan bohong! Baru saja Surip telephon, KURSI RODA Papa ketinggalan di rumah dia..!" kata istrinya.
..?!!
Tengah malam Moha pulang karena takut istrinya marah, tapi baru dia berdiri dari tempat duduk dan hendak berjalan dia terjatuh. Moha mencoba bangun lagi.. Tapi jatuh lagi. Mungkin karena terlalu banyak minum alkohol, Moha mencoba pulang dengan tertatih tatih, berkali-kali jatuh dan merangkak.
Karena rumahnya tak jauh, akhirnya Moha sampai dirumah, membuka kunci, masuk dan langsung merangkak ke tempat tidur tanpa sepengetahuan istrinya. "Aman...! Istri gue nggak tahu." pikir Moha yang langsung tertidur.
Esok Hari... Pagi-pagi sekali..
Istri Moha marah, "Pa.. Bangun!, Papa pasti semalam mabuk lagi."
Di tempat tidur Moha menjawab, "Ah Mama, nggak mungkin Papa minum lagi."
"Jangan bohong! Baru saja Surip telephon, KURSI RODA Papa ketinggalan di rumah dia..!" kata istrinya.
..?!!
13.2.10
Saudara Ipar
Ibnu berdua dengan istrinya Afni, keluar Kota mengendarai mobil. Di perjalanan mereka sempat bertengkar, jadi Afni ( istri ) cemberut tanpa ngobrol.
Melihat istrinya ngambeg dan melihat keluar jendela terus Ibnu menggoda biar istrinya mau ketawa.
Ketika mobil melewati dua ekor kerbau di pinggir jalan, istrinya lebih memperhatikan kerbau daripada canda suaminya.
"Itu saudara kamu ?" tanya Ibnu sambil menunjuk ke arah kerbau.
Istrinya menjawab,"Iya. Saudara ipar. Aku nikah sama adiknya dia."
"...ups!"
Melihat istrinya ngambeg dan melihat keluar jendela terus Ibnu menggoda biar istrinya mau ketawa.
Ketika mobil melewati dua ekor kerbau di pinggir jalan, istrinya lebih memperhatikan kerbau daripada canda suaminya.
"Itu saudara kamu ?" tanya Ibnu sambil menunjuk ke arah kerbau.
Istrinya menjawab,"Iya. Saudara ipar. Aku nikah sama adiknya dia."
"...ups!"
12.1.10
Neraka itu Ada
Dodo curhat kepada temannya Didi.
"Dulu aku tak beragama, aku Atheis tidak percaya adanya neraka." kata Dodo.
"Jadi sejak kapan kamu berubah ?" tanya Didi.
"Setelah aku menikah." jawab Dodo. "Sejak aku menikahi istriku, dan tinggal bersama mertuaku baru aku percaya NERAKA ITU ADA."
...
"Dulu aku tak beragama, aku Atheis tidak percaya adanya neraka." kata Dodo.
"Jadi sejak kapan kamu berubah ?" tanya Didi.
"Setelah aku menikah." jawab Dodo. "Sejak aku menikahi istriku, dan tinggal bersama mertuaku baru aku percaya NERAKA ITU ADA."
...
8.1.10
Aremania Tua
Di antara ribuan Aremania ( suporter Arema ) di stadion Kanjuruhan ada seorang Kakek yang mengenakan kostum Arema dan ikat kepala bertuliskan 'Singo Edan.'
Setiap klub tuan rumah membuat serangan, si Kakek berdiri dan bersorak. Tapi lalu terduduk ngos - ngosan kalau serangan Arema tak berbuah goal.
Melihat antusiasme kakek yang kira - kira berumur 70 tahun ini, seorang wartawan mendatangi dan mewawancarainya.
Wartawan : "Ma'af Pak, Bapak suka sepak bola ?"
Kakek : "Ya, dan saya cinta Arema Malang."
Wartawan : "Apakah setiap pertandingan Arema Bapak selalu nonton, kalo nonton biasanya sama siapa ?"
Kakek : "Selalu, setiap Arema main di kandang saya selalu nonton, biasanya ditemani istri saya. Tapi sekarang istri saya sudah meninggal jadi saya nonton sendiri."
Wartawan : " Oh saya turut berduka atas wafatnya istri Bapak, Tapi harusnya Bapak yang sudah tua kalau nonton ajak teman atau anak bapak, jadi bisa jagain kalau ada apa - apa."
Kakek : "Nggak ada yang mau. Saya ajak teman, anak dan cucu saya tapi semua menolak padahal tiket saya yang bayar."
Wartawan : "Lho, keterlaluan sekali anak Bapak tega membiarkan bapak yang sudah tua nonton bola sendirian. Apakah mereka tidak suka bola ?"
Kakek : "Ya mungkin Mereka bukan Aremania sejati seperti saya. Tapi mereka nggak mau nonton dengan alasan karena mereka semua menyiapkan acara pemakaman istri saya... "
Wartawan : "innalillahi..."
...
Setiap klub tuan rumah membuat serangan, si Kakek berdiri dan bersorak. Tapi lalu terduduk ngos - ngosan kalau serangan Arema tak berbuah goal.
Melihat antusiasme kakek yang kira - kira berumur 70 tahun ini, seorang wartawan mendatangi dan mewawancarainya.
Wartawan : "Ma'af Pak, Bapak suka sepak bola ?"
Kakek : "Ya, dan saya cinta Arema Malang."
Wartawan : "Apakah setiap pertandingan Arema Bapak selalu nonton, kalo nonton biasanya sama siapa ?"
Kakek : "Selalu, setiap Arema main di kandang saya selalu nonton, biasanya ditemani istri saya. Tapi sekarang istri saya sudah meninggal jadi saya nonton sendiri."
Wartawan : " Oh saya turut berduka atas wafatnya istri Bapak, Tapi harusnya Bapak yang sudah tua kalau nonton ajak teman atau anak bapak, jadi bisa jagain kalau ada apa - apa."
Kakek : "Nggak ada yang mau. Saya ajak teman, anak dan cucu saya tapi semua menolak padahal tiket saya yang bayar."
Wartawan : "Lho, keterlaluan sekali anak Bapak tega membiarkan bapak yang sudah tua nonton bola sendirian. Apakah mereka tidak suka bola ?"
Kakek : "Ya mungkin Mereka bukan Aremania sejati seperti saya. Tapi mereka nggak mau nonton dengan alasan karena mereka semua menyiapkan acara pemakaman istri saya... "
Wartawan : "innalillahi..."
...
1.1.10
Suami Galak vs Bajaj
Seorang suami yang galak berdiri di depan rumahnya. Dia sedang menunggu istrinya pulang belanja dari pasar, karena dia juga memesan untuk dibelikan makan siang kepada istrinya.
Tidak lama bajaj yang membawa istrinya berhenti tepat di depannya.
Sang istri memberikan uang 5.000,- rupiah kepada sopir bajaj. Tetapi sopir bajaj bilang itu kurang, dia minta ongkos 10.000,-
Sang Istripun memberikan selembar 5.000-an lagi kepada sopir bajaj. Tapi Suami galak ini marah, "Hei... Tukang bajaj ! Jangan macam - macam kamu. Biasa dari pasar kesini lima ribu."
Karena takut sopir bajajpun mengembalikan uang 5.000 yang kedua.
Sambil membentak Suami galak ini menyuruh istrinya masuk rumah, " Istriku cepat masuk rumah !"
"Tapi Bang.." kata sang istri.
"Jangan pakai tapi - tapi, cepat masuk. Aku kasih pelajaran sopir bajaj ini." kata suaminya.
"Tukang bajaj !" gertak si suami. "Cepat kamu pergi dari sini, sebelum bajaj kamu aku bakar. Dan awas, jangan lewat sini lagi !"
Dengan ketakutan sopir bajaj memacu kendaraanya kencang.
"Istriku, mana pesanan makan siangku? Aku sudah lapar." pinta si suami.
"Makanan sama belanjaan ada di bajaj Bang, kan bajainya Abang usir.." jawab si istri.
"Sial banget..."
...
Tidak lama bajaj yang membawa istrinya berhenti tepat di depannya.
Sang istri memberikan uang 5.000,- rupiah kepada sopir bajaj. Tetapi sopir bajaj bilang itu kurang, dia minta ongkos 10.000,-
Sang Istripun memberikan selembar 5.000-an lagi kepada sopir bajaj. Tapi Suami galak ini marah, "Hei... Tukang bajaj ! Jangan macam - macam kamu. Biasa dari pasar kesini lima ribu."
Karena takut sopir bajajpun mengembalikan uang 5.000 yang kedua.
Sambil membentak Suami galak ini menyuruh istrinya masuk rumah, " Istriku cepat masuk rumah !"
"Tapi Bang.." kata sang istri.
"Jangan pakai tapi - tapi, cepat masuk. Aku kasih pelajaran sopir bajaj ini." kata suaminya.
"Tukang bajaj !" gertak si suami. "Cepat kamu pergi dari sini, sebelum bajaj kamu aku bakar. Dan awas, jangan lewat sini lagi !"
Dengan ketakutan sopir bajaj memacu kendaraanya kencang.
"Istriku, mana pesanan makan siangku? Aku sudah lapar." pinta si suami.
"Makanan sama belanjaan ada di bajaj Bang, kan bajainya Abang usir.." jawab si istri.
"Sial banget..."
...
25.12.09
Siapa Yang Kau Kalahkan ?
Jarwo adalah penggila catur, juara 1 lomba catur 17-an di RT 07. Tiap malam sepulang kerja dia nongkrong di pos ronda di ujung gang.
Setiap pulang dari pos ronda dia selalu membangunkan istrinya, dan bercerita siapa yang dia kalahkan catur malam ini.
"Sayang.., tahu nggak Si Ahmad? Itu mahasiswa yang kost di rumah nomer 5, baru saja dia aku kalahkan 3 set berturut - turut." kata jarwo menyombongkan kehebatan caturnya.
Malam berikutnya Jarwo pulang tengah malam, membangunkan istrinya dan berkata, "Istriku sayang... Kenal nggak sama Pak Imron? Itu dosen yang istrinya pengacara. Baru saja dia aku taklukkan catur. Hebat kan aku?"
Istrinya tak pernah menanggapi kata - kata suaminya. Tapi lama kelamaan sang istri kesal juga.
Malam ini ketika pulang tengah malam Jarwo heran karena istrinya belum tidur dan sedang buru - buru memakai dasternya.
Seperti biasa Jarwo hendak bercerita kehebatanya main catur, tapi...
Istrinya lebih dulu bicara, "Suamiku sayang, kamu tahu nggak Si Edi? Duda yang tinggal depan rumah kita. Malam ini aku membuatnya bertekuk lutut..."
"Kamu kan tidak bisa main catur ?" Tanya Jarwo.
"Kebetulan Si Edi juga nggak bisa main catur." kata sang istri sambil masuk kamar mandi.
...
Setiap pulang dari pos ronda dia selalu membangunkan istrinya, dan bercerita siapa yang dia kalahkan catur malam ini.
"Sayang.., tahu nggak Si Ahmad? Itu mahasiswa yang kost di rumah nomer 5, baru saja dia aku kalahkan 3 set berturut - turut." kata jarwo menyombongkan kehebatan caturnya.
Malam berikutnya Jarwo pulang tengah malam, membangunkan istrinya dan berkata, "Istriku sayang... Kenal nggak sama Pak Imron? Itu dosen yang istrinya pengacara. Baru saja dia aku taklukkan catur. Hebat kan aku?"
Istrinya tak pernah menanggapi kata - kata suaminya. Tapi lama kelamaan sang istri kesal juga.
Malam ini ketika pulang tengah malam Jarwo heran karena istrinya belum tidur dan sedang buru - buru memakai dasternya.
Seperti biasa Jarwo hendak bercerita kehebatanya main catur, tapi...
Istrinya lebih dulu bicara, "Suamiku sayang, kamu tahu nggak Si Edi? Duda yang tinggal depan rumah kita. Malam ini aku membuatnya bertekuk lutut..."
"Kamu kan tidak bisa main catur ?" Tanya Jarwo.
"Kebetulan Si Edi juga nggak bisa main catur." kata sang istri sambil masuk kamar mandi.
...
29.11.09
Obat Sakit Kepala
Dua orang sopir bajaj, Taya dan Slamet sedang berbincang.
"Met, kepalaku pusing banget, kamu tahu nggak obat yang manjur?" Tanya Taya.
Slamet menjawab, "Ah nggak tahu, tapi kalo aku sakit kepala, aku pulang kerumahku lalu aku ajak istriku kekamar, aku tidur dengan istriku langsung sembuh."
"Ohh...begitu?" kata Taya.
...*
Siang harinya Slamet kembali ketemu dengan Taya di pangkalan bajaj.
Dengan bersemangat Taya mengatakan, "Met, bener juga saran kamu, luar biasa! Sakit kepalaku langsung hilang... Istrimu memang hebat!"
"Hah, memangnya apa yang kamu lakukan ?" tanya Slamet.
"Loh, kan kamu tadi yang kasih tahu kalo istrimu bisa nyembuhin sakit kepala? Jadi aku datang ke rumahmu, aku ajak istrimu ke kamar, lalu... Tidur bareng.. Ehh sembuh!" jawab Taya seolah tanpa dosa.
..
"Met, kepalaku pusing banget, kamu tahu nggak obat yang manjur?" Tanya Taya.
Slamet menjawab, "Ah nggak tahu, tapi kalo aku sakit kepala, aku pulang kerumahku lalu aku ajak istriku kekamar, aku tidur dengan istriku langsung sembuh."
"Ohh...begitu?" kata Taya.
...*
Siang harinya Slamet kembali ketemu dengan Taya di pangkalan bajaj.
Dengan bersemangat Taya mengatakan, "Met, bener juga saran kamu, luar biasa! Sakit kepalaku langsung hilang... Istrimu memang hebat!"
"Hah, memangnya apa yang kamu lakukan ?" tanya Slamet.
"Loh, kan kamu tadi yang kasih tahu kalo istrimu bisa nyembuhin sakit kepala? Jadi aku datang ke rumahmu, aku ajak istrimu ke kamar, lalu... Tidur bareng.. Ehh sembuh!" jawab Taya seolah tanpa dosa.
..
27.11.09
Tetangga Mesra
Yeti dan suaminya Nano sedang duduk berdua di teras rumah, mereka memperhatikan tetangga baru yang tinggal di depan rumahnya.
Yeti: "Lihatlah bang, tetangga kita itu. Tiap mau berangkat kerja dia mencium istrinya. Mesra sekali. Abang harusnya juga begitu."
Nano: "Baiklah kalo itu maumu. Besuk sebelum berangkat kerja aku akan cium istri dia."
Yeti: Hah...!
Yeti: "Lihatlah bang, tetangga kita itu. Tiap mau berangkat kerja dia mencium istrinya. Mesra sekali. Abang harusnya juga begitu."
Nano: "Baiklah kalo itu maumu. Besuk sebelum berangkat kerja aku akan cium istri dia."
Yeti: Hah...!
24.11.09
Nyaris Ketahuan
Asman dan dua temanya Agus dan Rohman adalah karyawan bengkel las, yang mengeluh karena Bos nya selalu pulang lebih awal.
"Enak banget jadi Bos, tiap jam 12 siang dia pulang, " kata Agus.
"Bagaimana kalau kita tutup bengkel jam 1 kita bolos rame-rame? Toh bos nggak tau ini" Kata Rohman.
Maka hari itu mereka pulang lebih awal. Asman yang pengantin baru langsung pulang ke rumah, tanpa salam tanpa ketuk pintu menuju ke kamar untuk memberi kejutan pada sang istri.
Tapi begitu sampai di depan kamar dia melihat Istrinya berdua dengan Bos Bengkelnya di tempat tidur!!!
Keesokan harinya...
"Hari ini kita bolos lagi, kita pulang jam 1 seperti kemarin." kata Rohman.
Asman bilang, "Ah... Gue nggak ikut bolos lah. Kemarin gue hampir kepergok bolos sama bos."..
"Enak banget jadi Bos, tiap jam 12 siang dia pulang, " kata Agus.
"Bagaimana kalau kita tutup bengkel jam 1 kita bolos rame-rame? Toh bos nggak tau ini" Kata Rohman.
Maka hari itu mereka pulang lebih awal. Asman yang pengantin baru langsung pulang ke rumah, tanpa salam tanpa ketuk pintu menuju ke kamar untuk memberi kejutan pada sang istri.
Tapi begitu sampai di depan kamar dia melihat Istrinya berdua dengan Bos Bengkelnya di tempat tidur!!!
Keesokan harinya...
"Hari ini kita bolos lagi, kita pulang jam 1 seperti kemarin." kata Rohman.
Asman bilang, "Ah... Gue nggak ikut bolos lah. Kemarin gue hampir kepergok bolos sama bos."..
13.11.09
Mimpi Anakku
Jose pengusaha hasil hutan tiap pagi mengantarkan anak lelakinya ke sekolah sebelum berangkat ke kantor.
"Pa, semalam adik mimpi bertemu seorang peri, dia bilang kakek akan meninggal." kata sang anak sebelum turun dari mobil.
Dengan santai Jose menjawab,"Ah... Itu cuma mimpi."
Saat sedang makan siang di kantor hari itu juga dia dapat kabar via telephon, Ayah mertuanya meninggal karena kecelakaan.
Seminggu kemudian anaknya kembali bercerita mengalami mimpi bertemu peri yang bilang neneknya akan meninggal.
Jose pun bilang,"Adik cuma mimpi kan? Jangan dipikirkan."
Tapi siang harinya Jose mendapat berita, ibu mertuanya meninggal karena sakit jantung.
Sebulan berlalu, pagi ini anak bilang, "Pa, adik mimpi lagi. Kata peri 'ayahmu akan meninggal.' Adik takut kehilangan Papa."
Jose menenangkan anaknya,"Tenang sayang, itu tidak mungkin. Papa kan sehat, papa akan hati-hati."
Tapi dalam pikiran jose tetap takut mati. Hari itu dia selalu berdo'a.
Sore hari ketika pulang kerja dia menjumpai istrinya sedang menangis di dapur.
"Ada apa ma?" tanyanya.
Istrinya menjawab, "Tukang roti langganan mama meninggal...."
"Pa, semalam adik mimpi bertemu seorang peri, dia bilang kakek akan meninggal." kata sang anak sebelum turun dari mobil.
Dengan santai Jose menjawab,"Ah... Itu cuma mimpi."
Saat sedang makan siang di kantor hari itu juga dia dapat kabar via telephon, Ayah mertuanya meninggal karena kecelakaan.
Seminggu kemudian anaknya kembali bercerita mengalami mimpi bertemu peri yang bilang neneknya akan meninggal.
Jose pun bilang,"Adik cuma mimpi kan? Jangan dipikirkan."
Tapi siang harinya Jose mendapat berita, ibu mertuanya meninggal karena sakit jantung.
Sebulan berlalu, pagi ini anak bilang, "Pa, adik mimpi lagi. Kata peri 'ayahmu akan meninggal.' Adik takut kehilangan Papa."
Jose menenangkan anaknya,"Tenang sayang, itu tidak mungkin. Papa kan sehat, papa akan hati-hati."
Tapi dalam pikiran jose tetap takut mati. Hari itu dia selalu berdo'a.
Sore hari ketika pulang kerja dia menjumpai istrinya sedang menangis di dapur.
"Ada apa ma?" tanyanya.
Istrinya menjawab, "Tukang roti langganan mama meninggal...."
Istri Cantik
Edu pulang kerja ketika di pinggir jalan dilihat seorang laki - laki tua duduk di trotoar sambil menangis.
Dengan rasa iba Edu mendekati lalu bertanya, "Kakek, kenapa menangis?"
Sang kakek menjawab,"Saya punya istri masih muda, 20 tahun, cantik sekali."
"Lalu kenapa kakek sedih? Apa dia tidak bisa masak?" Edu penasaran.
Sang Kakek menjawab,"Bukan.. Dia istri yang pandai masak, bahkan hari ini dia masak makanan kesukaan kakek."
"Atau istri kakek selingkuh?" tanya Edu.
"Tidak..tidak. Dia istri soleha yang setia." jawab lelaki tua itu tegas.
"Lalu kenapa kakek menangis...?" Edu mulai tak sabar.
"Masalahnya... Kakek lupa rumah kakek dimana....."
Dengan rasa iba Edu mendekati lalu bertanya, "Kakek, kenapa menangis?"
Sang kakek menjawab,"Saya punya istri masih muda, 20 tahun, cantik sekali."
"Lalu kenapa kakek sedih? Apa dia tidak bisa masak?" Edu penasaran.
Sang Kakek menjawab,"Bukan.. Dia istri yang pandai masak, bahkan hari ini dia masak makanan kesukaan kakek."
"Atau istri kakek selingkuh?" tanya Edu.
"Tidak..tidak. Dia istri soleha yang setia." jawab lelaki tua itu tegas.
"Lalu kenapa kakek menangis...?" Edu mulai tak sabar.
"Masalahnya... Kakek lupa rumah kakek dimana....."
Langganan:
Postingan (Atom)

